Sabtu, 22 Desember 2012

Metode Meraih Tujuan Hidup Islami



Bismillahirrahmanirrahim
Tatkala Allah menjelaskan bahwa risalah Islam merupakan risalah bagi seluruh manusia dan melarang berhukum kepada selain syariat Islam, Dia tidak hanya menjadikannya sekadar sebagai perintah semata; sebagai penjelasan bagi mereka yang ingin taat. Allah juga tidak mentoleransi orang yang hendak meraih tujuan tersebut dengan memilih cara sesuai dengan kehendaknya. Akan tetapi, Allah menjadikan suatu metode yang telah ditempuh oleh Nabi Muhammad saw. sebagai penjelasan (metode) yang wajib diikuti dalam rangka mewujudkan tujuan di atas. Kita diperintahkan untuk mengikutinya. Allah Swt. berfirman:
وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
Apa saja yang diperintahkan oleh Rasul maka terimalah dan apa saja yang dilarangnya maka tinggalkanlah. (QS al-Hasyr [59]: 7).
Islam tidak melalaikan penjelasan tentang solusi bagi realitas manusia, interaksi, dan problematikanya. Islam juga mendatangkan berbagai hukum yang harus diwujudkan secara praktis. Islam melarang mencuri, membunuh, dan zina. Sebaliknya, Islam memerintahkan iman, ibadah, taat, dsb. Islam tidak menjadikan semua itu sekadar perintah dan larangan semata dengan membiarkan seseorang berpegang teguh atau menyimpang sesuai dengan keinginannya. Akan tetapi, Islam juga menjelaskan hukum-hukum tertentu yang arus dipatuhi manusia. Islam memerintahkan untuk memotong tangan pencuri, mencambuk atau merajam seorang pezina, membunuh seorang pembunuh, atau membunuh orang yang murtad, dsb. Allah Swt. berfirman:
وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا
Pencuri laki-laki dan pencuri perempuan, potonglah tangan masing-masing dari keduanya. (QS al Mâidah [5]: 38).
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ
Pezina perempuan dan pezina laki-laki, cambuklah masing-masing seratus kali cambukan. (QS an-Nur [24]: 2).
Rasulullah saw. juga bersabda:
لا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنِّيْ رَسُوْلُ اللهِ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ : الثَّيِّبُ الزَّانِيْ وَ النَّفْسُ بِالنَّفْسِ وَ التَّارِكُ لِدِيْنِهِ الْمُفَارِقُ الْجَمَاعَةِ
Tidak halal darah seorang Muslim yang bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah kecuali karena satu di antara tiga hal: pezina yang sudah pernah menikah; jiwa dengan jiwa, sereta orang yang meninggalkan agamanya dan memecah-belah jamaah (HR al-Bukhari dan Muslim).
Hukum-hukum tersebut merupakan solusi Islami yang harus diterapkan secara real di tengah-tengah masyarakat. Siapa saja yang lemah imannya dipaksa oleh sanksi yang diterapkan oleh penguasa.
Hukum-hukum tersebut merupakan hukum-hukum untuk menundukkan manusia pada kedaulatan syariat dan kekuasaan Allah.
Hukum-hukum itulah yang menjadikan Islam diterapkan, bukan sebagai perintah dan larangan semata yang menyebabkan seseorang boleh terikat atau tidak sekehendak hati dan hawa nafsunya. Hukum-hukum itulah yang dinamakan sebagai tharîqah (metode), yakni tharîqah syar‘î yang wajib dipegang teguh—tidak boleh diganti dengan tharîqah lainnya—dalam rangka meraih tujuan yang telah diperintahkan. Contoh, hukum potong tangan tidak boleh diganti dengan hukuman penjara atau dibunuh untuk mencegah adanya pencurian. Demikian pula hukuman mati bagi orang murtad (yang tidak mau kembali) atau hukuman cambuk dan rajam bagi pezina.
Islam telah menetapkan pemerintahan Islam sebagai metode untuk meraih tujuan Islam. Di dalam masyarakat Muslim akan selalu ada orang yang menyimpang dari tuntunan Islam, menghalang-halangi hukum-hukumnya, dan bahkan berupaya untuk menghancurkan Islam. Mereka menjadi bahaya yang selalu mengancam manusia. Sistem yang memelihara dan memerintah serta mengatur manusia harus ada agar manusia dapat dihindarkan dari bahaya tersebut. Karenanya, harus ada pemerintahan dan sistem pemerintahan. Bersamaan dengan itu, harus ada pula kekuasaan dan kekuatan yang menjadi sandaran sistem untuk menerapkan Islam dan menjaga rakyat serta memelihara rakyat dengan politik yang ssesuai dengan syariat. Oleh karena itu, Daulah Khilafah Islamiyah merupakan metode kehidupan islami.
Mengemban Islam ke seluruh umat dan meletakkan mereka di bawah kekuasaan Islam merupakan salah satu kewajiban bagi umat Islam. Hal itu mengharuskan terlaksananya jihad dan karenanya pula mengharuskan adanya daulah (negara). Hal itu telah tampak dengan jelas dari aktivitas Rasul ketika beliau menyerukan Islam di Makkah, beraktivitas memperbanyak jumlah kaum Muslim, dan berusaha agar kekuasaan membuat hukum hanya bagi Allah.
Ketika masyarakat Makkah jumud dan menolak dakwah, Rasul mulai menawarkan dakwah kepada kabilah-kabilah dan masyarakat lain. Beliau menawarkan dakwah dan penerapan Islam kepada mereka sampai hal itu terwujud di Madinah. Di Madinahlah beliau berhasil mendirikan negara (dawlah) Islam. Setelah negara Islamh berdiri, mulailah beliau melancarkan jihad untuk menghilangkan berbagai penghalang fisik yang menghadang di jalan dakwah serta meluaskan kekuasaan Islam dan kedaulatan syariatnya. Beliau mengutus para utusan dan berbagai surat kepada para kaisar, raja, dan pemimpin kabilah dalam rangka menyeru mereka kepada Islam.
Dengan demikian, metode untuk meraih tujuan Islam adalah melalui negara Islam atau Daulah Khilafah Islamiyah. Menegakkan Daulah Khilafah Islamiyah merupakan kewajiban. Dengan Daulah Khilafah Islamiyah akan tegak berbagai kewajiban yang lain, dan akan terwujud masyarakat Islam. Dengan itu pula, kalimat-kalimat Allah akan menjadi tinggi, dakwah Islam dapat diemban ke seluruh dunia, banyak manusia bersyahadat, dan dan kewajiban jihad dapat dihidupkan. Semua itu merupakan inti kewajiban Islam.
Daulah Khilafah Islamiyah merupakan mahkota kewajiban dan menjadi syarat bagi kesempurnaan pelaksanaan berbagai kewajiban lain. Hadis Rasul telah menggambarkan pentingnya keberadaan khilafah dan baiat kepada khalifah untuk menerapkan al-Quran dan as-Sunah. Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لا حُجَّةَ لَهُ, وَ مَنْ مَاتَ وَ لَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
Siapa saja yang melepaskan tangan dari ketaatan (kepada imam/khalifah), niscaya akan menemui Allah pada Hari Kiamat tanpa memiliki hujjah, dan siapa saja yang mati tanpa ada baiat di pundaknya, niscaya ia mati (seperti) kematian Jahiliah. (HR Muslim).

اْلإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَ يُتَقَى بِهِ

Sesungguhnya imam (Khalifah)itu bagaikan perisai tempat orang-orang akan berperang dan berlindung di belakangnya. (HR Muslim).
Islam mewajibkan hanya boleh ada satu negara Islam dan satu umat Islam. Rasul saw. bersabda:

إِذَا بُوْيِعَ لِخَالِفَتَيْنِ فَاقْتُلُوْا اْلآخِرَ مِنْهُمَا

Jika dua orang khalifah dibaiat maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya. (HR Muslim).
مَنْ أَتَاكُمْ وَ أَمْرُكُمْ جَمِيْعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ, يُرِيْدُ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ وَ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوْهُ
Siapa saja yang mendatangi kalian, sedangkan urusan kalian berada pada satu orang, lalu hendak memutus ikatan kalian dan memecah-belah jamaah kalian maka bunuhlah. (HR Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasa’i).
إِنَّهُ سَتَكُوْنُ هَنَاتٌ وَ هَنَاتٌ, فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُفَرِّقَ أَمْرَ هَذِهِ اْلأُمَّةِ, وَ هِيَ جَمِيْعٌ, فَاضْرِبُوْهُ بِالسَّيِفِ كَائِنًا مَنْ كَانَ
Sesungguhnya akan terjadi bencana demi bencana. Karena itu, siapa saja yang hendak memecah-belah urusan umat ini, sementara umat berada dalam satu-kesatuan, maka bunuhlah ia dengan pedang bagaimanapun keadaannya. (HR Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasa’i).
Sebagaimana dimaklumi, metode untuk mewujudkan tujuan penerapan Islam dan mengemban dakwah ke seluruh dunia adalah melalui Daulah Khilafah Islamiyah—satu kewajiban yang saat ini belum terwujud. Karena itu, umat Islam wajib beraktivitas untuk mewujudkannya dengan cara yang sesuai dengan tuntutan syariat, yakni sebagaimana yang telah ditempuh oleh Rasul saw. tatkala beliau menyeru manusia pada keimanan dan ketundukkan pada Allah Swt.—sekalipun banyak manusia yang tidak memenuhi seruan itu dan banyak pula yang menyimpang.
Jika demikian, bagaimana metode yang ditempuh oleh Rasul hingga beliau berhasil mendirikan negara Islam dan memuliakan agama Allah?
Sesungguhnya perjalanan dan perjuangan Rasulullah saw. mendirikan negara Islam bukanlah semata-mata aktivitas—sebagaimana anggapan sebagian ulama penguasa—yang tidak ada konsekuensinya bagi kita. Sebaliknya, ia merupakan manhaj yang telah ditunjukkan oleh al-Quran serta oleh sikap, perkataan, dan perbuatan Nabi saw. Artinya, hal itu merupakan penjelasan syariat tentang tatacara bagaimana meraih cita-cita Islam. Secara ringkas perjalanan dan perjuangan Rasulullah saw. adalah sebagai berikut:
Pertama, mula-mula beliau mengumpulkan kaum Mukmin dalam –halaqah-halaqah yang bersifat siriyah. Beliau mengajarkan kepada mereka agama yang baru (Islam). Beliau membentuk mereka menjadi sosok yang baru, yakni menjadi sosok yang berkepribadian Islam dengan memiliki pola pikir dan pola jiwa islami. Jadilah mereka kelompok yang khas—dengan akidah, pemikiran, perasaan, perilaku, dan cita-cita mereka yang islami itu—di tengah-tengah masyarakat Makkah.
Kedua, pada tahap berikutnya, Rasulullah saw. bersama kutlah (kelompok)-nya mulai memasuki kancah perang pemikiran dan keyakinan. Mereka menentang pemikiran dan keyakinan masyarakat Makkah yang rusak sekaligus melakukan perjuangan politik terhadap para penguasa dan pembesar. Nabi saw. dan kelompoknya mengemban semua itu dengan berbagai kesulitan yang dihadapi. Mereka menjelaskan kebenaran dan fakta-fakta, meluruskan pemahaman akan sesuatu dan kehidupan, sekaligus membantah para pembesar kafir serta menyingkap hakikat mereka dan apa yang ada pada mereka. Beliau dan kelompoknya menyeru manusia untuk bertafakur dan ber-tadabbur, mencegah mereka dari aktivitas yang menyia-nyiakan akal dan dari sikap berpegang teguh kepada kebatilan. Allah Swt. Berfirman:
إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ
Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah adalah umpan Jahanam. Kalian pasti masuk ke dalamnya. (QS al-Anbiya’ [21]: 98).
وَضَرَبَ لَنَا مَثَلاً وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ(78)قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ
Dia membuat perumpamaan bagi kami, dan dia lupa kepada kejadiannya. Dia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?” Katakanlah, “Dia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali pertama. Dia Mahatahu tentang segala makhluk-Nya.” (QS Yasin [36]: 78-79).
أَفَرَأَيْتُمُ اللاَّتَ وَالْعُزَّى(19)وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الأُخْرَى(20)أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الأُنْثَى(21)تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَى(22)إِنْ هِيَ إِلاَّ أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَءَابَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى
Apakah kalian (orang-orang musyrik) menganggap Latta, Uzza, dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kalian (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kalain dan bapak-bapak kalian ada-adakan. Allah tidak menurunkan suatu keterangan sedikit pun untuk (menyembah)-nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka. Sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. (QS an-Najm [53]: 19-23).
ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا(11)وَجَعَلْتُ لَهُ مَالاً مَمْدُودًا(12)وَبَنِينَ شُهُودًا(13)وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيدًا(14)ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ(15)كَلاَّ إِنَّهُ كَانَ ِلآيَاتِنَا عَنِيدًا(16)سَأُرْهِقُهُ صَعُودًا(17) إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ(18)فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ(19)ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ(20)ثُمَّ نَظَرَ(21)ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ(22)ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ(23)فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلاَّ سِحْرٌ يُؤْثَر ُ(24)إِنْ هَذَا إِلاَّ قَوْلُ الْبَشَرِ(25)سَأُصْلِيهِ سَقَرَ
Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Aku telah menjadikan baginya harta benda yang banyak dan anak-anak yang selalu bersamanya. Aku pun telah melapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak! Sebab, sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Quran). Aku akan membebaninya dengan pendakian yang melelahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang dia tetapkan). Karena itu, celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Kemudian dia memikirkan. Sesudah itu dia bermasam muka dan merengut. Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, “Al-Quran ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dulu). Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.” Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqor. (QS al-Mudatsir [74]: 11-26).

وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ(8)بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ

Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup itu ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh? (QS at-Takwir [81]: 8-9).
وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ(1)الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ(2)وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ(3)أَلاَ يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ
Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta untuk dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain mereka menguranginya. Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa mereka sesungguhnya akan dibangkitkan? (QS al-Muthaffifin [83]: 1-4).
تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ(1)مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ(2)سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah baginya harta benda dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. (QS al-Lahab [111]: 1-3).
Masih banyak ayat-ayat lain yang menyatakan manhaj dan metode yang tetap dalam interaksi antara kebenaran dan dakwahnya melawan kebatilan dan dakwahnya.
Ketiga, pada tahap selanjutnya, siksaan yang berat, boikot, dan intimidasi menimpa Nabi saw. dan para sahabat r.a. Semua itu tidak memalingkan mereka sedikit pun dari Islam. Mereka menghadapi semua itu dengan tetap bersabar dan terus menjalankan dakwah. Nabi saw. tidak pernah berpaling sedikit pun dari Islam; tidak pernah pula berkompromi. Beliau selalu menolak mereka dengan penolakan yang tegas. Beliau menolak untuk menerapkan sebagian wahyu Allah dan meninggalkan sebagian. Beliau menolak harta yang akan menjadikannya orang terkaya (di antara penduduk Makkah). Beliau menolak untuk menyembah Allah satu tahun dan menyembah Tuhan mereka satu tahun. Allah Swt. berifrman:
قُلْ يَاأَيُّهَا الْكَافِرُونَ(1)لاَ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ(2) وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ(3)وَلا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4)وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ(5)لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Katakanlah, “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah; kalian bukanlah penyembah Tuhan yang aku sembah; aku tidak akan menjadi penyembah apa yang kalian sembah; dan kalian tidak (pernah) pula menjadi penyembah Tuhan yang kami sembah. Bagi kalianlah agama kalian dan bagiku agamaku (Islam). (QS al-Kafirun [109]: 1-6).
Rasulullah juga bersabda :
لَوْ وَضَعُوْا الشَّمْسَ فِيْ يَمِيْنِيْ وَ الْقَمَرَ فِيْ يَسَارِيْ عَلَى أَنْ اَتْرُكَ هَذَا اْلأَمْرَ حَتَّى يَظْهَرَنِيَ اللهُ أَوْ اَهْلِكَ فِيْهِ مَا تَرَكْتُهُ
Demi Allah, seandainya mereka mampu meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini, aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkan diriku atau aku binasa di dalamnya. (Sîrah Ibn Hisyâm).
Beliau dan kelompoknya terus menjelaskan dakwah, mencela kekufuran dan pemikiran-pemikiran kufur, memperingatkan orang-orang kafir akan azab Allah, serta mencela akidah dan keyakinan kufr dengan terang-terangan.
Keempat, ketika keburukan kekufuran dan para penganutnya semakin bertambah dan mereka melihat bahwa Muhammad tidak pernah berputus asa, tidak pernah berpaling, dan tidak pernah berkompromi, maka setiap kabilah (kaum) menimpakan bahaya, pembunuhan, dan siksaan kepada setiap Muslim yang ada di antara mereka. Namun demikian, kaum Muslim tetap teguh dalam keimanan mereka dan tetap berpegang teguh pada tali agama Allah yang kokoh. Mereka terus melakukan dakwah, perang pemikiran, dan perjuangan politik. Ketika keburukan semakin berat menimpa kaum Muslim, Rasul menganjurkan para sahabat untuk hijrah ke Habsyah menyelamatkan agama mereka. Akan tetapi, sebagian besar sahabat tetap bertahan di Mekah. Sekalipun begitu, mereka tidak pernah berhenti berdakwah, tidak berkompromi atau tawar menawar, dan tidak pernah berpaling sedikitpun dari berdakwah. Tatkala masyarakat Makkah membeku (jumud) di hadapan dakwah, Rasul saw. mendatangi berbagai kabilah, menyeru mereka kepada Islam, dan meminta nushrah (pertolongan) mereka hingga tersampaikanlah risalah Allah dan mereka menjadi sandaran bagi beliau untuk menolong penerapan Islam.
Kelima, Nabi saw terus mencari nushrah (pertolongan). Beliau tidak menemukan sesuatu kecuali penolakan bahkan penolakan yang buruk. Banyak pembesar kabilah-kabilah menolak tawaran beliau hingga Allah swt. mendatangkan kepada beliau masyarakat Madinah dengan masuk Islamnya sebagian besar dari mereka; mereka tidak memerangi dakwah sebagaimana yang terjadi di Makkah. Di antara mereka yang masuk Islam adalah para pembesar dan para pemimpin kabilah. Lalu, Nabi saw. meminta nushrah mereka untuk mendirikan negara Islam di Madinah. Tatkala mereka setuju, mereka membaiat Nabi saw. dalam Baiat ‘Aqabah II (Baiat Perang), baiat pendirian negara Islam. Kemudian beliau hijrah ke Madinah. Sejak kedatangan beliau di Madinah, berdirilah daulah Islam.
Pada akhirnya, Rasulullah saw. langsung menerapkan Islam, mengokohkan tiang-tiang negara Islam, serta memulai aktivitas jihad untuk meninggikan kalimat Allah dan untuk mengemban dakwah ke seluruh umat manusia.
Ardiyan Muhammad

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar